Rabu, 02 Juli 2014

Surat Jeritan My Future



Dear Istriku yang sedang berjuang di dalam sana,

Hari ini aku akan resmi menjadi ayah. Entah dalam beberapa jam lagi.
Kekhawatiranku bukan tentang hari ini, tetapi rentetan hari-hari yang akan kita lewati setelah ini.
Aku, kamu, dan buah hati kita nanti.

Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk memberimu kabar buruk. Akan tetapi ketauhilah, tidak akan ada aktu yang tepat untuk menyampaikan hal ini. Aku baru saja di PHK dari perusahaan tempat ku bekerja. Perusahaan yang menafkahi keluarga kecil kita selama 2 tahun terakhir. Aku sebenarnya tidak ingin kamu tahu tentang ini, tetapi cepat atau lambat kamu pasti akan tahu kondisi ini. w

Entah kenapa di saat genting seperti ini. Di saat jutaan pasangan lain tersenyum bahagia menyambut kehadiran anak pertama mereka, sementara kita harus menghadapi musibah seperti ini.
Shit, Kenapa aku begitu egois memikirkan ini, sementara engkau sedang berjuang keras di dalam sana. Semestinya aku tidak punya waktu untuk memikirkan ini. Layaknya suami yang baik, seluruh waktu yang ku punya saat ini seharusnya ku habiskan untuk mendoakan keselamatan mu dan calon buah hati kita nanti.

Aku masih sibuk mengintip di sela-sela pintu ruang operasi. Sedari tadi aku mondar-mandir tak karuan di sini. Pikiranku bercabang dan tumbuh begitu liar. Udara yang tadinya sejuk berubah mencekam membuat ku tegang.  Ketahuilah, aku benar-benar mendoakanmu.

Ketakutanku tidak pernah melebihi saat ini. Aku belum pernah mengkhawatirkanmu seperti ini, mengingat kondisi kandunganmu yang lemah dan belum genap 9 bulan. Aku betul-betul ingin marah kepada Tuhan, kenapa semua cobaan ini datang di waktu yang bersamaan.

Aku memilih duduk tenang di ujung koridor. Sesekali aku menghela nafas seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku benar-benar rindu senyuman lepas yang kau seduhkan kedalam kopi hangat pagi tadi. Aku ingin mendengar cerita gila mu sebelum aku tertidur pulas di penghujung malam-malamku. Aku masih ingat betapa senangnya dirimu menceritakan masa depan anak kita nanti.

“Aku ingin anak kita jadi musisi handal, dan aku akan berdiri paling depan dengan tepuk tangan yang paling keras saat anak kita konser nanti”

Deretan kata-kata itu masih aku hafal meski telah kau ucapkan sejak kandunganmu masih berusia 3 bulan.  Dan ini merupakan alasan kenapa aku menghadiahimu sebuah headphone di hari ulang tahun mu 2 minggu yang lalu. Aku betul-betul ingat semua keinginanmu, meskipun kadang tidak masuk akal. Aku percaya kamu melebihi dari tingkat rasionalitas yang ada di kepalaku.

Aku tampak seperti pecundang saat ini. Aku bahkan tidak berani berkhayal tentang masa depan anak kita nanti. Dengan kondisi seperti ini, aku hanya bisa menghadiahimu janji-janji yang boleh kau tagih kapan saja, nanti.

Aku janji “aku tidak akan membuat dirimu dan anak kita nanti merasa kekurangan sedikit pun. Aku akan menjadi suami yang baik seperti yang kau tulis di diary mu semasa bangku sekolah. Aku juga berjanji akan menjadi sosok ayah yang baik buat anak kita nanti. Aku akan melindungi dan menafkahi kalian dengan mengerahkan seluruh potensi yang ku punya. Akan ku pertaruhkan nyawaku sekalipun untuk membuat kalian bahagia”

Aku benar-benar tidak sabar menanti saat-saat itu. Mungkin nanti kau akan membangunkanku hanya untuk mengganti popok anak kita nanti. Atau kita bertengkar kecil hanya karena aku salah menaruh takaran susu anak kita di malam hari. Mungkin ada baiknya, nanti kita membuat jadwal piket jaga malam seperti di film-film korea. J

Tiba-tiba aku tersadar dari lamunan panjang, setelah seorang suster keluar dan bergegas menghampiriku. Aku segera berdiri dan menanyakan kondisimu.
“Bagaimana sus?” “Apa anak ku lahir dengan selamat?”
Suster hanya diam dan memintaku berbicara langsung dengan dr.akio yang memimpin operasi . Aku pun bergegas menuju ruangannya yang tak jauh dari ruang operasi. Setibanya aku dengan nafas terengah-engah, aku menanyakan kondisimu.

Dr. Akio tampak terlihat tenang, beliau melepas kacamatanya sesaaat sebelum dia beranjak duduk. Aku benar-benar tegang, melebihi saat aku mengucapkan ijab qabul saat kita nikah dulu. Aku begitu khawatir, terlebih melihat raut wajah dr. Akio yang sedikit gamang.

“Selamat, anda menjadi ayah. Putra anda lahir dengan selamat dengan berat 2,5 kg, tetapi...”

Semenjak dulu aku tidak suka kata-kata setelah “tetapi”. Saat itu, aku seolah ingin terbangun dari mimpi dan semuanya baik-baik saja. Air mata ku tiba-tiba tertahan di garis terluar. Aku takut.

“Kondisi istrimu sedang kritis, dia mengalami pendarahan berkali-kali. Kondisinya begitu lemah, dan saat ini kita butuh pendonor darah yang tidak sedikit”

Sungguh, aku menangis dalam hati saat itu. Tercengang dan hanya mampu diam. Aku ingin segera menemuimu dalam kondisi apapun.

Untungnya dokter memperbolehkanku menemui mu di ruang ICU. Aku diperkenankan masuk setelah menggunakan baju operasi seperti yang dokter kenakan. Aku menggenggam tangan mu dan masih berharap itu bukanlah kau yang sebenarnya. Aku masih berharap kau terbangun dan teriak “surprise” seperti kau menjahiliku dengan berpura-pura pingsan di hari ulang tahunku dulu.

Sungguh aku masih ingin berlama-lama di sini. Meskipun kau tidak sadar saat ini, Aku menceritakan padamu bahwa anak kita laki-laki, ini seperti kejutan yang kau idam-idamkan selama ini. Bukan kah begitu? Aku masih ingat betapa kau menutup telinga setiap kali dokter selesai meng-USG kandungan mu. Kau benar-benar menantikan hari ini sebagai sebuah kejutan. Seharusnya kau sedang senyum bahagia dan memelukku erat. Aku benar-benar takut kehilangan kamu. Aku menyempatkan mencium keningmu sesaat setelah aku dipersilahkan keluar oleh suster.

Setelah menemuimu, Aku segera mengabari para keluarga dan kerabat dekat untuk mencari pendonor darah sebanyak mungkin.  Sayangnya golongan darah kita berbeda, padahal ketahuilah aku bahkan rela mendonorkan separuh nyawaku untuk melihat dirimu tersenyum sedikit saja.

Aku bergegas ke ruangan bayi. Tak sabar rasanya melihat putra pertama kita, entah wajahnya lebih mirip kamu atau justru lebih mirip aku. Siapapun dia, bagaimanapun rupanya, dia adalah anak kita yang akan memecah keheningan di istana sederhana kita nanti. Dia yang akan menjadi alasan untuk meredam keras kepala yang kita punya. Senyumannya akan menjadikan kita kuat, dan karena senyumannya juga kita berjuang.  

Di dalam sana aku menemui suster yang tadi ku temui pasca operasi. Aku bergegas menyapanya.

“Sus, tunjukkan dimana anakku?”

Jujur, aku sangat tabu mengucapkan kata “anakku”. Wajar, aku baru saja menjadi ayah beberapa menit yang lalu. Aku akan mencoba mengucapkan kata itu berulang kali nanti, agar aku menjadi biasa, seperti halnya aku terbiasa memanggilmu dengan ucapan “sayang”.

Suster pun menunjukkan anak kita. Aku melihat kakinya ada plester bertuliskan namamu di sana. Aku ingin menggendongnya segera tapi sayang suster tidak memperbolehkannya. Aku kasihan melihat kondisi putra kita, seharusnya saat ini dia sedang hangat berada dalam pelukanmu. Aku benar-benar merasa gagal menjadi ayah yang baik saat itu.

Aku pun beralih ke ruang ICU, di depan sana samar-samar kulihat sosok ibu dan ayahmu sedang mengintip kondisi mu dari lubang kaca transparan. Aku yakin, mereka tidak diperbolehkan masuk. Aku pun menemuinya dengan segera. Ternyata dugaan ku salah, mereka berdua adalah kawan lama semasa SMA dulu. Kebetulan mereka berdua mendapat kabar tentang keberadaan kita di Rumah sakit ini melalui sosial media.

Setelah itu aku betul-betul tak ingat apa-apa lagi. Aku tersadar dan kau sedang duduk manis disamping ku. Semuanya seperti mimpi yang panjang. Kau mencium ku dan membisikku dengan ucapan “anak kita laki-laki”.

Makassar, 9 November 2016

BIARLAH BULAN MEWAKILI HATIKU



KAU BERTANYA PADAKU SEBERAPA DALAM KUMENCINTAIMU
MEWAKILI HATIKU
SEBERAPA BANYAK AKU MENCINTAIMU
HATIKU SUNGGUH-SUNGGUH
BIARLAH BULAN
KAU BERTANYA PADAKU SEBERAPA DALAM KUMENCINTAIMU
SEBERAPA BANYAK AKU MENCINTAIMU
CINTAKU TAK BERUBAH
BIARLAH BULAN MEWAKILI HATIKU

KAU BERTANYA PADAKU SEBERAPA DALAM KUMENCINTAIMU
SEBERAPA BANYAK AKU MENCINTAIMU
COBALAH KAU PIKIRKAN
BIARLAH BULAN MEWAKILI HATIKU

PANGAN NEGERI DITANGAN PETANI



PANGAN NEGERI DITANGAN PETANI                               




Petani  merupakan salah satu profesi pekerja di Indonesia yang memiliki peran yang sangat besar bagi kelangsungan hajat hidup orang banyak. Yang terbesit dari fikiran kita yaitu petani bekerja di sawah, membajak sawah, menanam padi, mencangkul, menanam benih, menggiling beras dan lain-lain. Berbeda dengan orang-orang yang kerjanya duduk di kursi pemerintahan yang upahnya sangat berbeda dengan upah petani yang kerjanya cukup besar dan berat. Upah yang diperoleh petani sangat minim dan hanya cukup untuk kelangsungan hidupnya sehari-hari.Tidak ada upah lebih untuk itu  kecuali, ia mencari tambahan penghasilan dari berjualan benih dan pupuk sebagai usaha sampingan atau ia sebagai buruh tani karena hasil pertanian tidak mencukupi. Dari situlah para petani memperoleh upah yang lebih dari pendapatan usaha sampingan.
Kesejahteraan petani yang masih dibawah standar memang sangat mengenaskan namun, tetap saja banyak orang (terutama masyarakat desa) memilih pekerjaan tersebut  sebagai mata pencahariannya. Bukan keinginan yang mendasari mereka untuk tetap menjadi petani, tetapi beberapa faktor yang menyebabkan mereka memilih pekerjaan tersebut. Jika memang ada pekerjaan lain seperti berdagang hal itu tentu memerlukan modal yang sangat besar.


Mengapa banyak orang (masyarakat desa) lebih memilih pekerjaan sebagai buruh tani dengan upah yang minim dan apakah ia dapat juga bertahan hidup? Jawabannya adalah ia tidak memiliki fikiran seperti masyarakat kota dengan kebutuhan tersiernya. Petani hanya memikirkan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kelangsungan hidupnya dengan cara yang sederhana.
Lambat laun, jumlah petani akan semakin berkurang. Semua itu disebabkan  generasi muda yang ada di desa selalu berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih mapan dibandingkan dengan orang tuanya. Karena kebanyakan generasi muda sekarang berfikiran  mencari pekerjaan di kota sangatlah baik dibandingkan menjadi seorang petani.



Pemerintah harus melakukan terobosan, jangan sampai generasi petani habis. Tidak mungkin mengandalkan petani yang telah berusia lanjut. Itu akan berdampak pada hasil padi yang dihasilkan. Menurunnya jumlah produksi beras akan berdampak pada krisis makanan dan akan menyulitkan pemerintah untuk memutar otak, bagaimana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia secara merata. Karena nasi sebagai makanan pokok dari kalangan atas hingga bawah dan merupakan kebutuhan hidup orang banyak dan diperlukan oleh semua orang.
Akhirnya import beras menjadi pilihan utama dan biasanya beras import lebih murah dibandingkan dengan beras lokal. Dan lagi-lagi petani yang mengalami kerugian karena kalah bersaing dengan harga beras import. Yang akhirnya petani (masyarakat desa) berfikiran untuk menjual lahan sawahnya kepada masyarakat kota untuk dijadikan bangunan modern seperti mall, perumahan serta industri-industri. Jangan sampai petani yang sudah mati-matian mempertahankan produksi malah dikecewakan oleh harga jual yang sangat murah. Harus ada kebijakan yang memberikan kepastian penghasilan dan jaminan nilai jual hasil produksi petani kita.
Benarkah petani memiliki kekuatan yang luar biasa? Kalau ya, dimana sesungguhnya energi yang disimpan para petani? Mengidentifikasi sejauh mana petani memiliki daya dan energi yang Maha Dahsyat, sebenarnya secara alamiah dapat kita ketahui, tapi oleh karena “kebutaan” manusia modern. Maka lagi-lagi pengetahuan tentang itu tidak disadari oleh orang-orang yang mengatakan dirinya maju.
Petani sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa, yang paling utama adalah secara naluriah petani mempunyai rasa menyatu  dengan  alam. Oleh karena alam dan petani menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan. Akhirnya seburuk apapun alam atau separah apapun musim yang sedang terjadi bagi petani tidak pernah menjadi masalah. Acapkali seorang petani lebih berpedoman pada perputaran alam dan selalu saja pedoman yang digunakan benar-benar tepat.
Bayangkan saja krisis pangan dan harga-harga pangan dunia saat ini sudah mencapai tahap yang memprihatinkan. Tahun-tahun sebelumnya lebih dari 1 milyar orang kekurangan gizi di seluruh dunia. Seandainya saja setiap orang tahu betapa berjasa dan dibutuhkannya para petani dalam pengentasan atas realita ini. Dan apa yang terjadi jika petani diseluruh Indonesia terhentikan upayanya? Bukan hanya Indonesia yang merasakannya, tapi seluruh dunia pun ikut turut dalam dampaknya. Bukankah ini akan menjadi pengusiran kaum tani yang sebelumnya tidak pernah terjadi di sejarah pertanian dunia!
Alih-alih pemerintah dalam penggunaan tanah dan air untuk memproduksi pangan, kekayaan alam tersebut akan diubah untuk menghasilkan energi dalam bentuk agro-diesel dan ethanol. Sampai dengan hari ini para tani, masyarakat adat pria dan wanita adalah produsen pangan mayoritas di dunia.  Bila kita tidak melindungi mereka sekarang ini, maka hal ini akan mengusir mereka dari tanah pertanian dan pangan akan menjadi langka dan harganya semakin melonjak mahal.
Apalah daya kiranya kebijakan para pemimpin kita mengakibatkan petani kehilangan sumber penghidupannya, terpinggirkan dan dipaksa menjadi buruh yang bahkan tidak bisa terserap seluruhnya akibat lahan yang relatif sempit.
Karena itu petani kecil yang diperangkap pada situasi tanpa pilihan, bukanlah pihak yang bersalah, mereka adalah korban dari sistem yang  menimpa mereka! Harus diakui bahwa model industrial dari produksi dan konsumsi pangan telah mengakibatkan kerusakan pada model produksi pertanian kecil yang sebenarnya jauh lebih bertanggung jawab dalam menghasilkan pangan dan energi.



Pertanian keluarga yang berkelanjutan jelasnya sangat tepat pada tujuan yang paling fundamental dalam bidang pertanian yaitu memberi pangan rakyat (feed the people). Model pertanian keluarga yang berkelanjutan, berorientasi pada pasar lokal dan menciptakan kehidupan masyarakat desa yang sehat dimana pemakaian energi menjadi terkurangi dan menciptakan tingkat ketergantungan yang lebih kecil.
Dengan demikian seharusnya para petani memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Karena jasanya sangat bermanfaat bagi manusia di Indonesia. “Bangkit dan majulah para petani, Pangan negeriku ada ditanganmu.”