Dear Istriku yang sedang berjuang di
dalam sana,
Hari ini aku akan resmi menjadi
ayah. Entah dalam beberapa jam lagi.
Kekhawatiranku bukan tentang hari
ini, tetapi rentetan hari-hari yang akan kita lewati setelah ini.
Aku, kamu, dan buah hati kita nanti.
Mungkin ini bukan waktu yang tepat
untuk memberimu kabar buruk. Akan tetapi ketauhilah, tidak akan ada aktu yang
tepat untuk menyampaikan hal ini. Aku baru saja di PHK dari perusahaan tempat
ku bekerja. Perusahaan yang menafkahi keluarga kecil kita selama 2 tahun
terakhir. Aku sebenarnya tidak ingin kamu tahu tentang ini, tetapi cepat atau
lambat kamu pasti akan tahu kondisi ini. w
Entah kenapa di saat genting seperti
ini. Di saat jutaan pasangan lain tersenyum bahagia menyambut kehadiran anak
pertama mereka, sementara kita harus menghadapi musibah seperti ini.
Shit, Kenapa aku begitu egois memikirkan ini, sementara engkau
sedang berjuang keras di dalam sana. Semestinya aku tidak punya waktu untuk
memikirkan ini. Layaknya suami yang baik, seluruh waktu yang ku punya saat ini
seharusnya ku habiskan untuk mendoakan keselamatan mu dan calon buah hati kita
nanti.
Aku masih sibuk mengintip di
sela-sela pintu ruang operasi. Sedari tadi aku mondar-mandir tak karuan di
sini. Pikiranku bercabang dan tumbuh begitu liar. Udara yang tadinya sejuk
berubah mencekam membuat ku tegang. Ketahuilah, aku benar-benar
mendoakanmu.
Ketakutanku tidak pernah melebihi
saat ini. Aku belum pernah mengkhawatirkanmu seperti ini, mengingat kondisi
kandunganmu yang lemah dan belum genap 9 bulan. Aku betul-betul ingin marah
kepada Tuhan, kenapa semua cobaan ini datang di waktu yang bersamaan.
Aku memilih duduk tenang di ujung
koridor. Sesekali aku menghela nafas seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Aku
benar-benar rindu senyuman lepas yang kau seduhkan kedalam kopi hangat pagi
tadi. Aku ingin mendengar cerita gila mu sebelum aku tertidur pulas di
penghujung malam-malamku. Aku masih ingat betapa senangnya dirimu menceritakan
masa depan anak kita nanti.
“Aku ingin anak kita jadi musisi handal,
dan aku akan berdiri paling depan dengan tepuk tangan yang paling keras saat
anak kita konser nanti”
Deretan kata-kata itu masih aku
hafal meski telah kau ucapkan sejak kandunganmu masih berusia 3 bulan.
Dan ini merupakan alasan kenapa aku menghadiahimu sebuah headphone di hari
ulang tahun mu 2 minggu yang lalu. Aku betul-betul ingat semua keinginanmu,
meskipun kadang tidak masuk akal. Aku percaya kamu melebihi dari tingkat
rasionalitas yang ada di kepalaku.
Aku tampak seperti pecundang saat
ini. Aku bahkan tidak berani berkhayal tentang masa depan anak kita nanti.
Dengan kondisi seperti ini, aku hanya bisa menghadiahimu janji-janji yang boleh
kau tagih kapan saja, nanti.
Aku janji “aku tidak akan membuat
dirimu dan anak kita nanti merasa kekurangan sedikit pun. Aku akan menjadi
suami yang baik seperti yang kau tulis di diary mu semasa bangku sekolah. Aku
juga berjanji akan menjadi sosok ayah yang baik buat anak kita nanti. Aku akan
melindungi dan menafkahi kalian dengan mengerahkan seluruh potensi yang ku
punya. Akan ku pertaruhkan nyawaku sekalipun untuk membuat kalian bahagia”
Aku benar-benar tidak sabar menanti
saat-saat itu. Mungkin nanti kau akan membangunkanku hanya untuk mengganti
popok anak kita nanti. Atau kita bertengkar kecil hanya karena aku salah
menaruh takaran susu anak kita di malam hari. Mungkin ada baiknya, nanti kita
membuat jadwal piket jaga malam seperti di film-film korea. J
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunan
panjang, setelah seorang suster keluar dan bergegas menghampiriku. Aku segera
berdiri dan menanyakan kondisimu.
“Bagaimana sus?” “Apa anak ku lahir
dengan selamat?”
Suster hanya diam dan memintaku
berbicara langsung dengan dr.akio yang memimpin operasi . Aku pun bergegas
menuju ruangannya yang tak jauh dari ruang operasi. Setibanya aku dengan nafas
terengah-engah, aku menanyakan kondisimu.
Dr. Akio tampak terlihat tenang,
beliau melepas kacamatanya sesaaat sebelum dia beranjak duduk. Aku benar-benar
tegang, melebihi saat aku mengucapkan ijab qabul saat kita nikah dulu. Aku
begitu khawatir, terlebih melihat raut wajah dr. Akio yang sedikit gamang.
“Selamat, anda menjadi ayah. Putra
anda lahir dengan selamat dengan berat 2,5 kg, tetapi...”
Semenjak dulu aku tidak suka
kata-kata setelah “tetapi”. Saat itu, aku seolah ingin terbangun dari mimpi dan
semuanya baik-baik saja. Air mata ku tiba-tiba tertahan di garis terluar. Aku
takut.
“Kondisi istrimu sedang kritis, dia
mengalami pendarahan berkali-kali. Kondisinya begitu lemah, dan saat ini kita
butuh pendonor darah yang tidak sedikit”
Sungguh, aku menangis dalam hati
saat itu. Tercengang dan hanya mampu diam. Aku ingin segera menemuimu dalam
kondisi apapun.
Untungnya dokter memperbolehkanku
menemui mu di ruang ICU. Aku diperkenankan masuk setelah menggunakan baju
operasi seperti yang dokter kenakan. Aku menggenggam tangan mu dan masih
berharap itu bukanlah kau yang sebenarnya. Aku masih berharap kau terbangun dan
teriak “surprise” seperti kau menjahiliku dengan berpura-pura pingsan di hari
ulang tahunku dulu.
Sungguh aku masih ingin berlama-lama
di sini. Meskipun kau tidak sadar saat ini, Aku menceritakan padamu bahwa anak
kita laki-laki, ini seperti kejutan yang kau idam-idamkan selama ini. Bukan kah
begitu? Aku masih ingat betapa kau menutup telinga setiap kali dokter selesai
meng-USG kandungan mu. Kau benar-benar menantikan hari ini sebagai sebuah
kejutan. Seharusnya kau sedang senyum bahagia dan memelukku erat. Aku
benar-benar takut kehilangan kamu. Aku menyempatkan mencium keningmu sesaat
setelah aku dipersilahkan keluar oleh suster.
Setelah menemuimu, Aku segera
mengabari para keluarga dan kerabat dekat untuk mencari pendonor darah sebanyak
mungkin. Sayangnya golongan darah kita berbeda, padahal ketahuilah aku
bahkan rela mendonorkan separuh nyawaku untuk melihat dirimu tersenyum sedikit
saja.
Aku bergegas ke ruangan bayi. Tak
sabar rasanya melihat putra pertama kita, entah wajahnya lebih mirip kamu atau
justru lebih mirip aku. Siapapun dia, bagaimanapun rupanya, dia adalah anak
kita yang akan memecah keheningan di istana sederhana kita nanti. Dia yang akan
menjadi alasan untuk meredam keras kepala yang kita punya. Senyumannya akan
menjadikan kita kuat, dan karena senyumannya juga kita berjuang.
Di dalam sana aku menemui suster
yang tadi ku temui pasca operasi. Aku bergegas menyapanya.
“Sus, tunjukkan dimana anakku?”
Jujur, aku sangat tabu mengucapkan
kata “anakku”. Wajar, aku baru saja menjadi ayah beberapa menit yang lalu. Aku
akan mencoba mengucapkan kata itu berulang kali nanti, agar aku menjadi biasa,
seperti halnya aku terbiasa memanggilmu dengan ucapan “sayang”.
Suster pun menunjukkan anak kita.
Aku melihat kakinya ada plester bertuliskan namamu di sana. Aku ingin
menggendongnya segera tapi sayang suster tidak memperbolehkannya. Aku kasihan
melihat kondisi putra kita, seharusnya saat ini dia sedang hangat berada dalam
pelukanmu. Aku benar-benar merasa gagal menjadi ayah yang baik saat itu.
Aku pun beralih ke ruang ICU, di
depan sana samar-samar kulihat sosok ibu dan ayahmu sedang mengintip kondisi mu
dari lubang kaca transparan. Aku yakin, mereka tidak diperbolehkan masuk. Aku
pun menemuinya dengan segera. Ternyata dugaan ku salah, mereka berdua adalah
kawan lama semasa SMA dulu. Kebetulan mereka berdua mendapat kabar tentang
keberadaan kita di Rumah sakit ini melalui sosial media.
Setelah itu aku betul-betul tak
ingat apa-apa lagi. Aku tersadar dan kau sedang duduk manis disamping ku.
Semuanya seperti mimpi yang panjang. Kau mencium ku dan membisikku dengan
ucapan “anak kita laki-laki”.
Makassar, 9 November 2016