PANGAN NEGERI DITANGAN PETANI
Petani merupakan salah satu profesi pekerja di Indonesia yang memiliki peran yang sangat besar bagi kelangsungan hajat hidup orang banyak. Yang terbesit dari fikiran kita yaitu petani bekerja di sawah, membajak sawah, menanam padi, mencangkul, menanam benih, menggiling beras dan lain-lain. Berbeda dengan orang-orang yang kerjanya duduk di kursi pemerintahan yang upahnya sangat berbeda dengan upah petani yang kerjanya cukup besar dan berat. Upah yang diperoleh petani sangat minim dan hanya cukup untuk kelangsungan hidupnya sehari-hari.Tidak ada upah lebih untuk itu kecuali, ia mencari tambahan penghasilan dari berjualan benih dan pupuk sebagai usaha sampingan atau ia sebagai buruh tani karena hasil pertanian tidak mencukupi. Dari situlah para petani memperoleh upah yang lebih dari pendapatan usaha sampingan.
Kesejahteraan
petani yang masih dibawah standar memang sangat mengenaskan namun, tetap saja
banyak orang (terutama masyarakat desa) memilih pekerjaan tersebut sebagai mata pencahariannya. Bukan keinginan
yang mendasari mereka untuk tetap menjadi petani, tetapi beberapa faktor yang
menyebabkan mereka memilih pekerjaan tersebut. Jika memang ada pekerjaan lain
seperti berdagang hal itu tentu memerlukan modal yang sangat besar.
Mengapa
banyak orang (masyarakat desa) lebih memilih pekerjaan sebagai buruh tani
dengan upah yang minim dan apakah ia dapat juga bertahan hidup? Jawabannya
adalah ia tidak memiliki fikiran seperti masyarakat kota dengan kebutuhan
tersiernya. Petani hanya memikirkan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan
kelangsungan hidupnya dengan cara yang sederhana.
Lambat
laun, jumlah petani akan semakin berkurang. Semua itu disebabkan generasi muda yang ada di desa selalu
berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih mapan dibandingkan dengan orang
tuanya. Karena kebanyakan generasi muda sekarang berfikiran mencari pekerjaan di kota sangatlah baik
dibandingkan menjadi seorang petani.
Pemerintah
harus melakukan terobosan, jangan sampai generasi petani habis. Tidak mungkin
mengandalkan petani yang telah berusia lanjut. Itu akan berdampak pada hasil
padi yang dihasilkan. Menurunnya jumlah produksi beras akan berdampak pada
krisis makanan dan akan menyulitkan pemerintah untuk memutar otak, bagaimana
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia secara merata. Karena nasi
sebagai makanan pokok dari kalangan atas hingga bawah dan merupakan kebutuhan
hidup orang banyak dan diperlukan oleh semua orang.
Akhirnya
import beras menjadi pilihan utama dan biasanya beras import lebih murah
dibandingkan dengan beras lokal. Dan lagi-lagi petani yang mengalami kerugian
karena kalah bersaing dengan harga beras import. Yang akhirnya petani
(masyarakat desa) berfikiran untuk menjual lahan sawahnya kepada masyarakat
kota untuk dijadikan bangunan modern seperti mall, perumahan serta
industri-industri. Jangan sampai petani yang sudah mati-matian mempertahankan
produksi malah dikecewakan oleh harga jual yang sangat murah. Harus ada
kebijakan yang memberikan kepastian penghasilan dan jaminan nilai jual hasil
produksi petani kita.
Benarkah
petani memiliki kekuatan yang luar biasa? Kalau ya, dimana sesungguhnya energi
yang disimpan para petani? Mengidentifikasi sejauh mana petani memiliki daya
dan energi yang Maha Dahsyat, sebenarnya secara alamiah dapat kita ketahui,
tapi oleh karena “kebutaan” manusia modern. Maka lagi-lagi pengetahuan tentang
itu tidak disadari oleh orang-orang yang mengatakan dirinya maju.
Petani
sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa, yang paling utama adalah secara
naluriah petani mempunyai rasa menyatu dengan alam. Oleh karena alam dan petani menjadi hal
yang tidak bisa dipisahkan. Akhirnya seburuk apapun alam atau separah apapun
musim yang sedang terjadi bagi petani tidak pernah menjadi masalah. Acapkali
seorang petani lebih berpedoman pada perputaran alam dan selalu saja pedoman
yang digunakan benar-benar tepat.
Bayangkan
saja krisis pangan dan harga-harga pangan dunia saat ini sudah mencapai tahap
yang memprihatinkan. Tahun-tahun sebelumnya lebih dari 1 milyar orang
kekurangan gizi di seluruh dunia. Seandainya saja setiap orang tahu betapa
berjasa dan dibutuhkannya para petani dalam pengentasan atas realita ini. Dan
apa yang terjadi jika petani diseluruh Indonesia terhentikan upayanya? Bukan
hanya Indonesia yang merasakannya, tapi seluruh dunia pun ikut turut dalam
dampaknya. Bukankah ini akan menjadi pengusiran kaum tani yang sebelumnya tidak
pernah terjadi di sejarah pertanian dunia!
Alih-alih
pemerintah dalam penggunaan tanah dan air untuk memproduksi pangan, kekayaan
alam tersebut akan diubah untuk menghasilkan energi dalam bentuk agro-diesel
dan ethanol. Sampai dengan hari ini para tani, masyarakat adat pria dan wanita
adalah produsen pangan mayoritas di dunia.
Bila kita tidak melindungi mereka sekarang ini, maka hal ini akan
mengusir mereka dari tanah pertanian dan pangan akan menjadi langka dan harganya
semakin melonjak mahal.
Apalah
daya kiranya kebijakan para pemimpin kita mengakibatkan petani kehilangan
sumber penghidupannya, terpinggirkan dan dipaksa menjadi buruh yang bahkan
tidak bisa terserap seluruhnya akibat lahan yang relatif sempit.
Karena
itu petani kecil yang diperangkap pada situasi tanpa pilihan, bukanlah pihak
yang bersalah, mereka adalah korban dari sistem yang menimpa mereka! Harus diakui bahwa model
industrial dari produksi dan konsumsi pangan telah mengakibatkan kerusakan pada
model produksi pertanian kecil yang sebenarnya jauh lebih bertanggung jawab
dalam menghasilkan pangan dan energi.
Pertanian
keluarga yang berkelanjutan jelasnya sangat tepat pada tujuan yang paling
fundamental dalam bidang pertanian yaitu memberi pangan rakyat (feed the
people). Model pertanian keluarga yang berkelanjutan, berorientasi pada pasar
lokal dan menciptakan kehidupan masyarakat desa yang sehat dimana pemakaian
energi menjadi terkurangi dan menciptakan tingkat ketergantungan yang lebih
kecil.
Dengan
demikian seharusnya para petani memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih baik.
Karena jasanya sangat bermanfaat bagi manusia di Indonesia. “Bangkit dan
majulah para petani, Pangan negeriku ada ditanganmu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar