Rabu, 02 Juli 2014

PANGAN NEGERI DITANGAN PETANI



PANGAN NEGERI DITANGAN PETANI                               




Petani  merupakan salah satu profesi pekerja di Indonesia yang memiliki peran yang sangat besar bagi kelangsungan hajat hidup orang banyak. Yang terbesit dari fikiran kita yaitu petani bekerja di sawah, membajak sawah, menanam padi, mencangkul, menanam benih, menggiling beras dan lain-lain. Berbeda dengan orang-orang yang kerjanya duduk di kursi pemerintahan yang upahnya sangat berbeda dengan upah petani yang kerjanya cukup besar dan berat. Upah yang diperoleh petani sangat minim dan hanya cukup untuk kelangsungan hidupnya sehari-hari.Tidak ada upah lebih untuk itu  kecuali, ia mencari tambahan penghasilan dari berjualan benih dan pupuk sebagai usaha sampingan atau ia sebagai buruh tani karena hasil pertanian tidak mencukupi. Dari situlah para petani memperoleh upah yang lebih dari pendapatan usaha sampingan.
Kesejahteraan petani yang masih dibawah standar memang sangat mengenaskan namun, tetap saja banyak orang (terutama masyarakat desa) memilih pekerjaan tersebut  sebagai mata pencahariannya. Bukan keinginan yang mendasari mereka untuk tetap menjadi petani, tetapi beberapa faktor yang menyebabkan mereka memilih pekerjaan tersebut. Jika memang ada pekerjaan lain seperti berdagang hal itu tentu memerlukan modal yang sangat besar.


Mengapa banyak orang (masyarakat desa) lebih memilih pekerjaan sebagai buruh tani dengan upah yang minim dan apakah ia dapat juga bertahan hidup? Jawabannya adalah ia tidak memiliki fikiran seperti masyarakat kota dengan kebutuhan tersiernya. Petani hanya memikirkan untuk memenuhi kebutuhan pokok dan kelangsungan hidupnya dengan cara yang sederhana.
Lambat laun, jumlah petani akan semakin berkurang. Semua itu disebabkan  generasi muda yang ada di desa selalu berusaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih mapan dibandingkan dengan orang tuanya. Karena kebanyakan generasi muda sekarang berfikiran  mencari pekerjaan di kota sangatlah baik dibandingkan menjadi seorang petani.



Pemerintah harus melakukan terobosan, jangan sampai generasi petani habis. Tidak mungkin mengandalkan petani yang telah berusia lanjut. Itu akan berdampak pada hasil padi yang dihasilkan. Menurunnya jumlah produksi beras akan berdampak pada krisis makanan dan akan menyulitkan pemerintah untuk memutar otak, bagaimana untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia secara merata. Karena nasi sebagai makanan pokok dari kalangan atas hingga bawah dan merupakan kebutuhan hidup orang banyak dan diperlukan oleh semua orang.
Akhirnya import beras menjadi pilihan utama dan biasanya beras import lebih murah dibandingkan dengan beras lokal. Dan lagi-lagi petani yang mengalami kerugian karena kalah bersaing dengan harga beras import. Yang akhirnya petani (masyarakat desa) berfikiran untuk menjual lahan sawahnya kepada masyarakat kota untuk dijadikan bangunan modern seperti mall, perumahan serta industri-industri. Jangan sampai petani yang sudah mati-matian mempertahankan produksi malah dikecewakan oleh harga jual yang sangat murah. Harus ada kebijakan yang memberikan kepastian penghasilan dan jaminan nilai jual hasil produksi petani kita.
Benarkah petani memiliki kekuatan yang luar biasa? Kalau ya, dimana sesungguhnya energi yang disimpan para petani? Mengidentifikasi sejauh mana petani memiliki daya dan energi yang Maha Dahsyat, sebenarnya secara alamiah dapat kita ketahui, tapi oleh karena “kebutaan” manusia modern. Maka lagi-lagi pengetahuan tentang itu tidak disadari oleh orang-orang yang mengatakan dirinya maju.
Petani sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa, yang paling utama adalah secara naluriah petani mempunyai rasa menyatu  dengan  alam. Oleh karena alam dan petani menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan. Akhirnya seburuk apapun alam atau separah apapun musim yang sedang terjadi bagi petani tidak pernah menjadi masalah. Acapkali seorang petani lebih berpedoman pada perputaran alam dan selalu saja pedoman yang digunakan benar-benar tepat.
Bayangkan saja krisis pangan dan harga-harga pangan dunia saat ini sudah mencapai tahap yang memprihatinkan. Tahun-tahun sebelumnya lebih dari 1 milyar orang kekurangan gizi di seluruh dunia. Seandainya saja setiap orang tahu betapa berjasa dan dibutuhkannya para petani dalam pengentasan atas realita ini. Dan apa yang terjadi jika petani diseluruh Indonesia terhentikan upayanya? Bukan hanya Indonesia yang merasakannya, tapi seluruh dunia pun ikut turut dalam dampaknya. Bukankah ini akan menjadi pengusiran kaum tani yang sebelumnya tidak pernah terjadi di sejarah pertanian dunia!
Alih-alih pemerintah dalam penggunaan tanah dan air untuk memproduksi pangan, kekayaan alam tersebut akan diubah untuk menghasilkan energi dalam bentuk agro-diesel dan ethanol. Sampai dengan hari ini para tani, masyarakat adat pria dan wanita adalah produsen pangan mayoritas di dunia.  Bila kita tidak melindungi mereka sekarang ini, maka hal ini akan mengusir mereka dari tanah pertanian dan pangan akan menjadi langka dan harganya semakin melonjak mahal.
Apalah daya kiranya kebijakan para pemimpin kita mengakibatkan petani kehilangan sumber penghidupannya, terpinggirkan dan dipaksa menjadi buruh yang bahkan tidak bisa terserap seluruhnya akibat lahan yang relatif sempit.
Karena itu petani kecil yang diperangkap pada situasi tanpa pilihan, bukanlah pihak yang bersalah, mereka adalah korban dari sistem yang  menimpa mereka! Harus diakui bahwa model industrial dari produksi dan konsumsi pangan telah mengakibatkan kerusakan pada model produksi pertanian kecil yang sebenarnya jauh lebih bertanggung jawab dalam menghasilkan pangan dan energi.



Pertanian keluarga yang berkelanjutan jelasnya sangat tepat pada tujuan yang paling fundamental dalam bidang pertanian yaitu memberi pangan rakyat (feed the people). Model pertanian keluarga yang berkelanjutan, berorientasi pada pasar lokal dan menciptakan kehidupan masyarakat desa yang sehat dimana pemakaian energi menjadi terkurangi dan menciptakan tingkat ketergantungan yang lebih kecil.
Dengan demikian seharusnya para petani memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Karena jasanya sangat bermanfaat bagi manusia di Indonesia. “Bangkit dan majulah para petani, Pangan negeriku ada ditanganmu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar